Sabtu, 14 April 2012

Blame, Excuse, Justify

All blame is a waste of time. No matter how much fault you find with another, and regardless of how much you blame him, it will not change you. (Wayne Dyer)

Pernah ada seorang teman yang tinggal di Jakarta bercerita, ketika dia mengendarai mobil melewati di sebuah jalur satu arah tiba-tiba ada mobil lain yang lewat dari arah yang berlawanan dengan jalur satu arah tersebut. Herannya pengendara mobil yang nekat nerobos itu bukannya minggir memberi jalan dan meminta maaf karena telah jelas bertindak tolol dan membahayakan jiwa orang lain, tapi pengendara mobil itu malah marah-marah menyalahkan kawan saya dan menyuruh kawan saya ini minggir karena telah menghalangi jalannya.

Aneh bukan?

Pasti!

Mau yang lebih aneh lagi?

Ada!

Seorang psikolog melaporkan sebuah penemuan yang mencengangkan atas hasil surveinya. Ia melakukan interview dengan para narapidana di beberapa penjara Amerika Serikat. Hasilnya, tidak ada satu pun dari para narapidana itu yang mengaku bersalah atas tuduhan yang dijatuhkan pada mereka. Rata-rata mereka menjawab hal yang sama. Mereka kompak menyatakan bahwa mereka berada di tempat yang salah, di waktu yang salah, dan bertemu orang yang salah, dan mereka adalah korban dari keadaan. Pada intinya tak ada satu pun narapidana yang mengaku bersalah atas kasus mereka. Lalu akhir dari penelitian itu menyimpulkan bahwa sekumpulan terbesar orang yang tidak bersalah akan anda temukan di penjara. Ironis bukan? Mengingat penjara adalah tempat yang menampung orang-orang bersalah terbanyak di dunia ini.

Sikap mereka aneh bukan?

Tentu saja!

Tetapi coba kita tengok dalam kehidupan pribadi kita

Dalam kehidupan, sikap "menyalahkan" itu sering kali terjadi. Dan sikap yang satu ini menjadi salah satu penyakit mental serius yang menyebabkan kualitas kehidupan seseorang sangat rendah.

Setidaknya ada tiga sikap negatif yang biasa terjadi pada seseorang.
-Blame
-Excuse
-Justify

Disadari atau tidak disaat kita sedang dalam kondisi terpuruk, biasanya manusia cenderung memilih untuk blame it. Selalu ada yang bisa disalahkan. Baik itu orang di sekitar kita, faktor ekonomi, faktor keluarga, menyalahkan situasi, dan kadang-kadang Tuhan pun juga ikut dikambinghitamkan sebagai penyebab masalah yang menimpa kita.

Sikap blame ini membuat orang tidak akan pernah mau belajar dari masalah dan kegagalannya. Dan orang yang tidak mau belajar dari kegagalannya adalah orang yang gagal sesungguhnya. Bahaya terselubung dari sikap ini adalah membuat orang merasa selalu benar dan tidak perlu mengambil tindakan apa-apa lagi untuk memperbaiki kehidupannya.

Disadari atau tidak, manusia pun tidak jarang melakukan excuse (beralasan). Apa pun bisa menjadi alasan dari sebuah kegagalan. Seperti, "saya masih belum punya penghasilan yang cukup", "saya tidak punya bakat", "saya tidak punya modal", "saya ini cuma balung kere", "saya cuma tamatan S1 dengan IPK dua koma alhamdulillah" dan berbagai alasan lainnya.

Bahaya terselubung dari sikap excuse ini membuat orang jadi selalu merasa rendah diri. Dan selalu sulit untuk memperbaiki hidup jika kita selalu merasa lemah.

Sikap yang ketiga juga sering menghinggapi mental seseorang. Untuk melindungi kemalasan dan kelemahannya, biasanya orang cenderung untuk justify (pembenaran). Misalnya,"terang saja dia sukses, orang tuanya kaya sih.", "terang saja dia selalu promosi, habis dia lulusan luar negeri sih.", "terang saja isterinya cantik, udah ganteng, kaya lagi.", "terang saja saya tak berhasil, saya cuma lulusan SMP sih.". Sikap ini menunjukkan seolah-olah segala sesuatu disekitarnya menjadi terang dan dia sendiri yang penuh dengan kegelapan.

Ketika melihat orang lain yang lebih hebat, lebih sukses, lebih bahagia, sikap justify ini akan melakukan pembenaran tanpa mau terinspirasi untuk belajar dan mau untuk berubah. Kata-kata orang seperti ini sangat khas, biasanya mereka sering menggunakan ungkapan-ungkapan seperti,"terang saja ....", "sudah selayaknya ...", "sudah sepantasnya ...", "ya tidak heran ..." dan lain sebagainya.



Celakanya lagi apabila kita memilih untuk blame, excuse, atau justify atas masalah yang menimpa kita, kegagalan yang terjadi pada kita, atau rendahnya kualitas kehidupan kita, segala alasan atau pembenaran biasanya memang benar adanya. Memang benar anak orang kaya biasanya pendidikannya tinggi, lebih terarah dan punya segala sumber daya  dan dukungan untuk sukses. Memang benar lulusan luar negeri lebih cerah kariernya dibanding yang hanya lulusan dalam negeri. Memang benar orang miskin sangat terbatas ruang geraknya dan lebih banyak hambatannya. Tetapi kebenaran-kebenaran itu tidak ada artinya jika hanya untuk menutupi kemalasan dan keengganan untuk mengubah nasib kita, justru akan membuat kita hancur karena kita cenderung merasa lemah dan pasrah sambil mengutuki nasib.

Jika kita mau mendengarkan pesan dari Allah Azza Wa Jalla yang turun sekitar 1400 tahun yang lalu. Kita akan menemukan sebuah firman yang tercantum dalam Qur'an Surat Ar-Ra'du ayat 11 

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” QS 13:11

Dalam ayat itu tercantum kabar baik bahwa ternyata nasib bisa diubah. Dan jika kita ingin kualitas kehidupan kita berubah menjadi lebih baik, kita sendirilah yang harus mengubahnya, tidak bisa orang lain yang mengubahnya untuk kita.

Oleh karenanya makna yang tersirat dari ayat itu adalah betapapun banyaknya alasan yang bisa kita temukan untuk pembenaran keterpurukan nasib kita, hal itu sama sekali tidak ada artinya. Jika mau hidup menjadi lebih baik maka perjuangkanlah. Lepaskanlah sikap Blame, Excuse, dan Justify dan ambil 100% tanggung jawab demi kualitas hidup yang lebih baik.

Seperti kata pepatah
Awalilah dari pikiran. 

Tanamlah gagasan, petiklah tindakan. Tanamlah tindakan, petiklah kebiasaan. Tanamlah kebiasaan, petiklah watak. Tanamlah watak, petiklah nasib. 

Dimulai dari mengubah cara berfikir kita. Lalu akan terwujud tindakan yang lebih baik. Tindakan baik yang dilakukan berulang-ulang akan menjadi suatu kebiasaan. Kebiasaan yang dilakukan berkali-kali akan menjelma menjadi watak, dan watak inilah yang akhirnya mengantarkan kita kepada nasib.

Jadi nasib kita. Kitalah yang menentukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar