Jumat, 29 Juli 2011

14 Indikator Kegagalan Puasa Ramadhan

Berapa banyak orang yang berpuasa namun ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga…” (HR. Bukhari dan Muslim).

Jauh-jauh hari Rasulullah SAW telah memperingatkan mengenai orang-orang yang melakukan shaum di bulan ramadhan tetapi sebenarnya tidak memperoleh apa-apa kecuali lapar dan haus. Rugi sekali bukan..? Hadits Rasulullah tersebut selayaknya kita renungkan agar kita tidak termasuk orang-orang yang disinggung dalam hadits Rasulullah tersebut, yaitu mereka yang menjalani Ramadhan sekadar upacara ritual menahan lapar dan dahaga tahunan. Masuk tanpa kerinduan, berlalu pun tanpa kesan.



Agar kita tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang hanya memperoleh lapar dan haus semata di bulan ramadhan agaknya perlu kita mengetahui beberapa indikator kegagalan meraih keutamaan Ramadhan supaya kita dapat termasuk hamba-hamba Allah SWT yang berhasil meraih kemenangan di bulan Ramadhan yang ditandai dengan meningkatnya kualitas keimanan dan ketaqwaan. Di bawah ini ada 14 indikator kegagalan meraih keutamaan ramadhan yang dapat kita pelajari bersama.

1. Kurang optimal saat warming up di bulan rajab & sya’ban atau tidak mempersiapkan diri jauh hari sebelum ramadhan.

Persiapan diri tersebut meliputi :
Pertama : Persiapan hati (al-isti’dad al-ruhiy) dengan kerinduan dan kegembiraan menyambut ramadhan, serta permohonan doa agar Allah menyampaikan usia kita hingga bulan ramadhan.
Kedua : Persiapan keilmuan (al-isti’dad al-fikriy) dan hakikat ramadhan.
Ketiga : Persiapan fisik (al-isti’dad al-jasadiy) dengan menjaga kesehatan dan membiasakan tubuh untuk berpuasa sunnah banyak bertilawah, dan sholat malam.
Keempat : Persiapan logistic (al-isti’dad al-maliy) yaitu menyiapkan bekal untuk amal sedekah.
Kelima : Mengkondisikan lingkungan seperti membuat aturan dalam menonton TV, mengajak keluarga untuk menghormati suasana bulan Ramadhan.

Semua ini hendaknya sudah kita persiapkan sejak bulan-bulan sebelumnya (Rajab dan Sya’ban). Jika kita tidak mempersiapkan diri jauh-jauh hari dalam menyambut Ramahan, maka dapat diperkirakan kita akan gagal meraup keutamaan-keutamaan dalam bulan mulia ini teman-teman sekalian.

2. Menyia-nyiakan waktu.

Banyak kaum muslim saat ini terkecoh dengan dalil tidurnya orang yang shaum itu ibadah. Akibatnya pada saat shaum yang seharusnya bisa diisi dengan ibadah-ibadah sunnah dan kegiatan-kegiatan bermanfaat malah digunakan untuk tidur.. dengan alasan, kan berpahala, atau menghemat tenaga-lah, atau ngabuburit di alam mimpi.

3. Malas menjalankan ibadah-ibadah sunnah (malam-malam ramadhan tidak berbeda dengan malam-malam selain ramadhan).

Terutama di malam-malam menjelang akhir ramadhan (10 malam akhir ramadhan). Kehilangan momen-momen ini berarti juga kehilangan separuh keutamaan Ramadhan.
Di dalam shalat malam ini Rasulullah juga mengajarkan doa – doa yang insyaAllah diijabahi oleh Allah Azza wa Jalla. Diantara doa yang diperbanyak untuk membacanya seusai shalat terawih adalah “Allhumma inna nas-aluka ridhaaka wal jannah wa na’udzubika min sakhatika wan nar… Ya Allah, kami mohon keridhaan-Mu dan Surga-Mu. Dan kami mohon perlindungan dari kemarahan-Mu dan dari nerake-Mu..” Allahummaa innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni…Ya Allah sesungguhnya Engkau maha Pengampun menyukai pemberian ampunan, maka maafkanlah aku…

4. Malas membaca Al-Qur’an atau target tilawah Al-Qur’an minimal 1X khatam tidak tercapai.

Ini bisa dikatakan termasuk kesalahan fatal. Bagaimana mungkin anda melewatkan Ramadhan tanpa memperbanyak tilawah Al-Qur’an..? Bukankah Ramadhan merupakan Syahrul Qur’an..? Pada bulan ini pula Allah menurunkan wahyu-Nya dari Lauhul Mahfud ke langit dunia, atau disebut Lailatul Qodar, malam yang penuh kemuliaan. Pada bulan ini malaikat Jibril ‘alahis salam biasa mengulang–ulang bacaan Al Quran kepada Rasulullah atau juga disebut Muraja’ah, yakni mengecek bacaan Al Quran yang sudah diwahyukan.

Bagi kaum muslimin, sangat dianjurkan memiliki wirid Al Quran yang lebih baik lagi dari bulan– bulan sebelumnya. Kenapa harus mengkhatamkan minimal satu kali sepanjang bulan ini ?

Karena memang itulah target yang diajarkan oleh Rasulullah. Ketika Abdullah bin Umar bertanya kepada beliau, “Berapa lama sebaiknya seseorang mengkhatamkan Al Quran? Rasulullah menjawab, satu kali dalam satu bulan,” Abdullah bin Umar berkata, “Saya bisa lebih cepat dari satu kali khatam dalam satu bulan” Rasul berkata lagi, “Kalau begitu, bacalah dalam satu pekan” Tapi Abdullah bin Umar mengatakan bahwa dirinya masih mampu membaca seluruh Al Quran lebih cepat dari satu pecan. Kemudian Rasul mengatakan “Kalau begitu bacalah dalam tiga hari” Dalam Riwayat lain dikatakan. “Janganlah kalian mengakhatamkannya lebih cepat dari tiga hari” Hal ini karena bisa mengurangi kualitas tilawahnya, kurang memahami sehingga tidak mampu menyentuh jiwa.

Jadi cukup jelas bahwa tilawah Quran harus menjadi agenda atau jadwal khusus bagi seorang muslim apalagi seorang juru dakwah. Masa kalah sama Imam Malik Rahimahullah..? Beliau biasa mengkhatamkan Al Quran di bulan Ramadhan sebanyak 60 kali…!! Kita juga bisa doong.. :P

5. Puasa kita tidak mampu mencegah lisan untuk berkata buruk.

Hakikat puasa tidak terletak pada menahan diri untuk tidak makan dan minum saja, tetapi juga untuk menjaga pelakunya dari perbuatan maksiat yang dilakukan oleh lisan. Contoh penyimpangan yang bisa dilakukan oleh mulut seperti ghibah, fitnah, dusta, berkata kasar menyakiti perasaan orang lain, membuka rahasia atau aib orang. Rasulullah SAW menyatakan bahwa dusta akan menjadikan shaum kita menjadi sia-sia (HR Bukhari)

6. Masih mudah mengumbar amarah.

Ramadhan adalah bulan kekuatan. Rasulullah SAW bersabda,”Orang kuat bukanlah orang yang selalu menang ketika berkelahi, tetapi orang yang kuat adalah orang yang bisa menguasai diri ketika marah.”

7. Puasanya seseorang tidak bisa menjadikan matanya terpelihara dari maksiat.

Selesai sudah era video mesum. Bagi yang punya video2 mesum sebaiknya dimuseumkan saja. Nanti pas Ramadhan selesai bisa berkunjung ke museum itu lagi. Eh maksud saya sebaiknya dimusnahkan atau dibakar saja. Jadikanlah momentum Ramadhan ini sebagai penggemblengan diri menuju tingkat iman dan taqwa yang lebih baik lagi.

8. Buka puasa menjadi ajang pelampiasan nafsu ‘balas dendam’ setelah seharian penuh menahan lapar dan dahaga.

Jika saat berbuka puasa menjadi saat melahap semua keinginan nafsunya yang tertahan sejak pagi hingga petang, menjadikan saat berbuka sebagai kesempatan “balas dendam” dari upaya menahan lapar dan haus selama siang hari, maka nilai pendidikan puasa akan hilang.

Puasa pada hakikatnya adalah pendidikan bagi jiwa untuk mengendalikan diri dan menahan hawa nafsu. Hasil pendidikan itu akan tercermin dalam pribadi orang yang lebih bisa bersabar, menahan diri, tawakkal, pasrah, tidak emosional, tenang dalam menghadapi berbagai persoalan. Puasa menjadi kecil tak bernilai dan lemah unsur pendidi-kannya ketika upaya menahan dan mengendalikan nafsu itu hancur oleh pelampiasan nafsu yang dihempaskan saat berbuka.

Menurut pendapat saya pribadi, cara mengukur apakah puasa kita berhasil adalah dengan melihat timbangan pada awal puasa dan pada hari idul fitri. Coba lihat, kalau berat badan kita berkurang berarti memang sudah sepantasnya, tapi kalau bobot kita malah nambah apalagi kalau nambahnya sampai 10kg, berarti anda perlu evaluasi kembali puasa anda, terutama saat sahur &buka.. :D

9. Bulan Ramadhan tidak dioptimalkan untuk banyak mengeluarkan infaq dan shodaqoh.

Rasulullah SAW, seperti digambarkan dalam hadits adalah sosok yang paling murah hati dan dermawan di bulan Ramadhan. Di bulan inilah, satu amal kebajikan bisa bernilai puluhan bahkan ratusan kali lipat dibandingkan bulan-bulan lainnya. Momentum seperti ini sangat berharga dan tidak boleh disia-siakan..!

Jangan pelit-pelit deh buat infaq & shodaqoh. Salah satu cara ampuh yang diajarkan teman saya kalau anda mau infaq atau shodaqoh jangan sampai anda berfikir 2 kali. Begitu ada niat buat shodaqoh… ya langsung aja keluarin duitnya.. Kalau sampai anda berfikir 2 kali atau malah lebih.. bisa dipastikan anda ngga jadi shodaqoh.

10. Tidak menyambung tali silaturahmi atau bahkan malah memutuskan tali silaturahmi.

Ketika menyambut datangnya Ramadhan, Rasulullah SAW bersabda,”Barangsiapa menyambung tali persaudaraan di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya. Barangsiapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.”

11. Malas berdakwah & tidak bersemangat mensyiarkan Islam.

Inilah momentum yang sangat baik untuk berdakwah dan mensyiarkan Islam sodara-sodara. Di bulan ini situasi dan kondisinya sangat mendukung untuk menyebarkan dakwah Islam. Bulan ini momen bagus untuk mengubur virus sipilis (sekularisme, pluralisme dan liberalisme) dan menyerukan umat agar kembali kepada syariah Islam dan Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwah. Apabila kita tidak ikut serta berdakwah li istinafi al hayat al Islam.. waaah rugii…


12. Hari-hari menjelang akhir Ramadhan hanya dipenuhi dengan kesibukan menyambut pesta di hari idul fitri.

Fenomena ini sebenarnya hanya akibat dari pelaksanaan puasa yang tidak sesuai dengan adabnya. Orang yang berpuasa dengan baik tentu tidak akan menyikapi Ramadhan sebagai beban dan keterkungkungan.

Dan ini biasa dilakukan oleh banyak kaum muslim pada saat menjelang akhir ramadhan. Di saat Rasulullah SAW dan para sahabat semakin mempergiat ibadah shalat malam di 10 hari akhir Ramadhan, meninggalkan kesibukan duniawi, berharap memperoleh Lailatul Qadar, banyak kaum muslim saat ini justru meninggalkan shalat jamaah di masjid, memenuhi pasar-pasar dan mall dan malam-malamnya justru kembali seperti malam-malam sebelum Ramadhan.

13.Idul Fitri dirayakan laksana hari “kemerdekaan”, karena menandai akhir dari bulan untuk menahan diri dari segala hawa nafsu.

Ramadhan seringkali disebut sebagai “tamu agung” yang banyak membawa oleh-oleh dan barang-barang berharga untuk kita nikmati sehingga ia sangat kita rindukan kedatangannya dan sangat sedih kita bila harus berpisah. Tapi tak sedikit kaum muslim yang menganggap bahwa Ramadhan adalah tamu tak diundang yang kerjanya bikin repot ajah (bikin kita ngga boleh gini, ngga boleh gitu.. pokoknya nyebelin banget).. sehingga kepergiannya sangat kita tunggu-tunggu dan patut dirayakan.

Rasulullah SAW dan sahabatnya biasa sedih bahkan menangis saat Ramadhan hendak meninggalkan mereka, bahkan Rasulullah SAW bersabda,”Sekiranya manusia mengetahui kebaikan-kebaikan yang terdapat di bulan Ramadhan tentu mereka mengharapkan agar seluruh bulan adalah Ramadhan.” (HR. Ibnu Huzaimah). Jika anda bersuka cita dengan perginya Ramadhan, pastilah anda tidak optimal di Ramadhan ini.

14. Setelah Ramadhan berakhir, nyaris tidak ada ibadah yang dilanjutkan pada bulan-bulan berikutnya.

Inilah indikator yang dapat kita lihat secara jelas pada diri kita. Coba perhatikan apakah ibadah yang kita giatkan di bulan Ramadhan ini kontinyu atau tidak.. Jika ngga kontinyu.. maka gagal sudah hakikat shaum Ramadhan untuk anda.

Untuk mengantisipasi indikator kegagalan tersebut marilah kita perbaharui lagi semangat kita untuk bersungguh-sungguh menyambut Ramadhan. Dengan begitu kita dapat mengambil manfaat dengan amaliah Ramadhan satu bulan penuh ini agar menjadi bahan bakar ruhani agar keimanan dan ketaqwaan kita semakin menyala dan menggelora dan semakin meningkat di sebelas bulan ke depan.

Selamat menyambut tamu agung dan selamat menikmati jamuan Allah SWT di bulan Ramadhan ini..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar